Cerpen : Je t’aime - Syarif Miftahudin's Blog

Tuesday, December 18, 2012

Cerpen : Je t’aime

Sengaja dipasang lilin aroma terapi di meja dekat tempat tidurnya. Harum lilin aroma terapi membuat moodnya semakin membaik. “Gara-gara bus saja semuanya gagal” gerutu dalam hati. Andai saja papah tak menyuruhnya untuk antre panjang mengambil uang kiriman bulanan di bank, tidak ada bus telat datang, dan handphone-nya tidak tertinggal mungkin semuanya tidak akan gagal dan terjadi sia-sia seperti ini.

Tatapannya mengarah ke meja dekat tempat tidurnya, letak ponsel yang tertinggal sejak tadi. Diintipnya ponsel itu, ada lima puluh panggilan tak terjawab dari seorang laki-laki yang jauh darinya. Raca kekecewaannya semakin bertambah, rasa kangen ini semakin menderu, dan unek-unek yang selama ini dipendam sendiripun harus semakin lama dipendam sampai menumpuk jauh lebih banyak. Yah, mungkin harus menunggu akhir pekan lagi untuk mendengarkan suara lembutnya.

“Adeline.. Ada telfon tuh. Cepet turun!” belum sempat mengirim message, teriakan Mamah dari lantai bawah mengharuskan Adeline untuk turun. Bingar wajahnya pun merekah saat mendengar kata “Ada Telfon”. Yap, itu pasti dari seseorang yang dari tadi berputar pada otaknya. Seseorang yang dia amat sangat sayangi.

“Chubby! Kemana aja lo? Handphone-nya gak aktif. Email juga gak aktif.” Tebakannya tidak salah, itu benar Kenan. Laki-laki pujaannya yang sekarang menelfonnya.

“ah lo tuh jangan marah-marah dulu, gue bisa jelasin semuanya, jelek.” Jawab Adeline. Semuanya langsung ia ceritakan kepada Kenan tanpa pikir panjang. Unek-unek dan rasa kangennya melebur dengan nasehat dan banyolan Kenan. Walau mungkin kasih sayang itu hanya sekedar kasih sayang seorang sahabat.

Sejak kecil mereka berdua bersahabat. Berbagi dalam suka dan duka. Saling menjaga hati, walau Adeline-lah yang sering menjaga hati ketika dia tahu Kenan sedang dekat dengan wanita lain. Bagaimana tidak, Kenan lelaki berbadan tinggi tegap, mancung, kuliah di universitas terkenal di Paris dan memiliki senyum indah ini sangat mudah untuk dapat memikat setiap kaum hawa. Tapi bukan itu alasan Adeline mencintainya, itu karena hati yang memaksa.

Dan hanya Adeline saja yang dari dulu setia bertahan dalam status mencintai, bukan pacar. Dari dulu dirinya menunggu kata “je t’aime” dari mulut Kenan, katanya sih tak etis jika seorang wanita mendahului. Namun semua itu hanya khayalan belaka, tak mungkin Kenan mencintainya. Adeline selalu sadar diri.

“hari ini gue udah di Pekalongan.” Ujar Kenan. Mata Adeline langsung membelalak, seakan tak percaya.

“Serius? Lo bakalan mampir ke rumah gue kan?” tanyanya bersemangat.

“iya serius. Enggak!” jawab Kenan menggantung. “buat apa sih gue balik ke Pekalongan kalau gak mampir ke rumah lo! Lagian gue tadi mau mampir ke rumah lo tapi telfon gue gak diangkat sih takutnya lo ga di rumah.“ sambung Kenan.

“hihihihi. Ya maaf, kan gue udah jelasin. Yaudah gue tunggu nanti sore di tempat biasa.” jawab Adeline sekaligus mengakhiri panggilan yang sudah ditunggunya sejak seminggu lalu.

                                                                               ***

Jembatan ini kenangan kebahagiaan Adeline bersama Kenan semasa kecil sekaligus tempat yang sering dikunjunginya with or without Kenan. Sepanjang jembatan ini tertuliskan perasaan-perasaan Adeline selama ini, berharap tulisan-tulisan perasaannya akan dibaca oleh Kenan. Namun sikap Kenan yang kadang cuek membuatnya berpikir dua kali untuk berharap. Andai waktu bisa berputar seperti dulu, bukan sekarang adanya jarak sebagai penghalang untuk bertemu. Ingin rasanya mengatakan apa yang dulu ia ingin katakan tak usah percaya dengan statement bodoh yang mengharuskan wanita untuk lama menunggu sebuah kepastian yang tak pasti!

Matanya tersenyum sipit ketika melihat gambar hati di tengah-tengah namanya dan nama Kenan. cintanya itu awet bukan buat dolanan, bertahan bertahun-tahun seperti gambar hatinya. Karena cinta itu bukan jarak yang dapat memisahkan segalanya. Mungkin karena mencintainya itu tanpa alasan atau paksaan maka Adeline akan tetap bertahan dengan semua yang serba jauh ini.

Dilirik jam tangan di pergelangan tangannya, sudah pukul enam sore. namun sampai saat ini tak nampak sosok Kenan yang telah ditunggu kehadirannya di sepanjang Brug Dowo ini, padahal Kenan berjanji akan datang sejam yang lalu. Dari dulu tak pernah berubah, selalu saja ngaret.

Padahal cuaca disini mulai mendung, semendung hati Adeline.  dinginnya hembusan angin barat mulai muncul ketika senja menghilang. Pemandangan awan merah di atas Gunung Slamet sebelah utara Brug Dowo ini juga mulai samar. Suasana semakin sepi ketika mentari mulai lelah untuk menyinari Brug Dowo. Dan terjadilah rindu yang terabaikan dalam redup senja.

“Dimana Kenan?!” tanya Adeline berkali-kali. Sosok Kenan yang suka membuat kejutan itu belum hadir juga. Sudah beberapa kali dirinya keliling di sekitar brug dowo tapi tak ada sosok Kenan. Di balik batu besar yang terletak di Kali Sengkarang bawah Brug Dowo tempat kesukaan Kenan pun tak ada.

Dinginnya hembusan angin barat semakin menusuk membuat sweather dan syal di badannya tak dapat melindungi dirinya. Ditambah dengan petir yang membaha dan gerimis hujan membuat tubuhnya menggigil. Nafasnya mulai sesak dengan keadaan dingin seperti ini. tangannya pun terus mengorek-ngorek isi tas kecil yang selalu dibawanya, MANA OBAT?!! Obat yang selalu dibawa karena penyakit yang tak kunjung sembuhnya lupa dibawa. Padahal obat itu taruhan nyawanya ketika udara dingin masuk ke dalam paru-parunya.

Sudah pukul tujuh malam. hujan semakin deras, tubuhnya pun semakin membeku, wajahnya semakin pucat, kakinya semakin berat untuk memopong tubuhnya ketempat yang teduh. Tak ada satu orangpun yang melintas di jembatan ini. cengkraman tangan kanan tepat di paru-parunya tak dapat meredakan sakit yang luar biasa. Nafasnya mulai sesak, denyut jantungnya tak beraturan, dadanya terasa sempit, kulit kuning langsatnya pun berubah menjadi kebiruan. Hanya satu alasan Adeline bertahan, itu karena Kenan.

“Adeline. Maaf ak...” suara seorang laki-laki yang dari tadi ditunggunya terdengar dari kejauhan. Belum selesai Kenan berbicara, tangan kirinya yang dari tadi memegang besi jembatan pun tak dapat menahan dinginnya besi, kakinya sudah tak kuasa lagi untuk berdiri.  Pandangan Adeline mulai kabur, raut wajah Kenan yang memegang sekuntum mawar semakin hilang dalam pandangannya. Seketika semuanya gelap, hampa, Kosong...

                                                                             ***

Air mata Kenan terus jatuh di telapak tangan Adeline yang dari tadi dipegangnya, air wajahnya terlihat sangat kecewa. Rasa kekecewaannya semakin memuncak ketika mengetahui Adeline mempunyai penyakit Pneumotoraks, penyakit paru-paru yang dapat merenggut nyawa seseorang kapan saja. Penyakit yang datang karena penyakit asma yang sudah terlalu lama dipendamnya ternyata menjadi petaka. Satu alasan Adeline memendam semua ini, ini semua demi Kenan. Dia tak mau melihat sahabat kecilnya meneteskan air mata kesedihan karena dirinya. Adeline hanya ingin tetesan air mata Kenan itu air mata kebahagiaan, Adeline tak pernah peduli saat tetesan air mata kebahagiaan terjadi ketika dirinya harus menghembuskan nafas terakhirnya.

“Line gak sakit kan?! kamu sehat kan?! Dokter pasti bohong deh sama aku. Buktinya setiap aku telfon kamu selalu ceria, selalu kuat!! Del… maafin aku.” gumam Kenan dalam tangis kesedihannya.

Kelopak mata Adeline perlahan membuka. Pandangannya masih kabur, dilihatnya sekeliling ruangan yang pasti bukan rumahnya. Sekeliling ruangan ini serba putih, tangan kanannya sekarang bersarang infuse, tubuhnya kini terbaring lemah ditutupi selimut hangat dan genggaman tangan seseorang. Sekarang dia sedang di rumah sakit, tempat kunjungannya ketika penyakitnya kambuh. Pandangannya yang samar-samar melihat sosok lelaki yang terus menangis di sampingnya. Sosok lelaki yang di tunggunya berjam-jam.

“Kenan. gue dimana? Kenapa lo sedih gitu?” Tanya lirih Adeline sembari menahan rasa sakitnya.

“Deline akhirnya kamu sadar juga” kejut Kenan, “kamu sekarang di rumah sakit. kamu udah baikan kan?” 
Tanya Kenan. kamu? Kenan memanggil Adeline dengan panggilan formal layaknya sepasang kekasih yang saling menghormati. Seumur hidupnya, Adeline baru kali ini berbicara aku-kamu  atau mungkin ini sebuah kode? Hah tak mungkin, Kadang memang Kenan suka memberinya kejutan. Ini hanya sebuah kejutannya, tidak lebih.

“iya santai aja sih. Muka lo kenapa ditekuk gitu?” Tanya Adeline heran.

“malah tanya kenapa, ini karena kamu!”

“loh kok gue?”

“iya lah kamu! Aku tinggal sebentar beli bunga pas didatengin udah pingsan ngeselin abis deh.” “Udah gitu pakek punya penyakit, kenapa kamu gak pernah jujur sih sama aku?” kali ini tatapan mata Kenan penuh tanya sampai kedua alisnya hampir bertemu. Mulut Adeline rasanya sudah di lakban tertutup rapat tak bersuara. Dia bingung harus menjawab apa, apa dia harus jujur kalau dirinya takut melihat Kenan larut dalam kesedihan atau dia harus jujur dengan perasaannya sekarang, perasaan yang amat sangat mendalam. Otaknya bekerja keras untuk memilih jawaban-jawaban yang melingkari fikirannya sampai otaknya penuh kepulan asap kebingungan, namun tak ada satupun jawaban yang pas untuk menjawab petanyaan Kenan. lebih baik menjawab soal fisika daripada menjawab pertanyaan Kenan ini.

Tatapan mata Kenan semakin bertanya membuat Adeline semakin lemah untuk menjawab. Air wajahnya terlihat sangat gelisah.

“Adeline Fiananda, aku gak suka kalau kamu rahasiain ini apalagi tentang penyakitmu yang parah ini. Kamu rela liat aku nangis karena kamu udah gak ada di sisi aku lagi? Aku gak mau kehilangan kamu Line.” Ujar Kenan serius memecah kepulan asap di atas kepala Adeline.

“hahaha apa sih sok romantic deh. Lagian masa kamu telat berjam-jam cuman buat beli bunga sih.” Jawab Adeline bersikap biasa saja.

“aku tadi ke rumah eyang nganterin kue eh disuruh mampir sebentar terus jalanan macet chubby!” Ujar Kenan memperjelas seakan mengunci mulut Adeline. Kali ini tatapan mata Kenan berbeda. Jantung Adeline tiba-tiba berdetak dengan cepat. Suasana pun menjadi hening, hanya ada empat mata yang saling beradu menatap. Tak mengerti tatapan mata Kenan membuatnya tak dapat beralih. Dari tatapan itu Adeline mengerti bahwa Kenan akan mengatakan sesuatu yang tak biasa.

je t’aime, Adeline. Will you be my girlfriend?” ujar Kenan memecah keheningan. mata Adeline membelalak tak percaya sosok Kenan yang selama ini bersikap dingin sekarang berubah menjadi hangat. Jantungnya pun semakin berdetak cepat tak beraturan, peluhnya semakin deras, dirinya terus mencubit dan menampar pipinya yang sekarang merah merona, bukan kesakitan namun kebahagiaan yang telah membuktikan mimpinya selama ini menjadi kenyataan.

“Kenan kamu bodoh! Kamu mencintai gadis yang sekarat seperti aku.” Kebahagiaan itu seketika sirna. Adeline harus ingat dia hanya akan menyakiti perasaan Kenan jika menerima Kenan menjadi lelaki masa depannya. Kenan itu lelaki perfect, lebih banyak wanita cantik lainnya dengan masa depan indah yang lebih tepat bersanding dengan Kenan bukan dengan dirinya yang akan membawakan goresan luka.

“Dengan atau tanpa umur kamu yang mungkin lebih pendek dari orang lain, kamu adalah cinta pertama dan terakhirku, dengan penuh kesadaran tanpa tekanan apapun aku menginginkan itu dan memutuskan kamu adalah satu-satunya cinta dalam hidup aku.” Jawab Kenan serius, tatapannya tak beralih menatap dua bola mata indah Adeline, membuat Adeline semakin hanyut dalam perkataanya, namun ia masih tetap saja dalam kebisuan.

“bukannya ungkapan ini yang selalu kamu tunggu dari mulut aku? Ungkapan yang kamu tulis di sepanjang jembatan cintamu? je t’aime, line.” ujar ulang Kenan penuh harapan.

Mungkin benar kata Kenan. Dirinya tak boleh terus menyembunyikan perasaannya. Dengan adanya Kenan yang berstatus seorang kekasih, mungkin setiap sisa hidupnya akan lebih indah. Walau keindahannya harus terhalang oleh jarak, yang pasti sejauh apapun jarak yang memisahkan dan waktu yang mengalangi tak akan berarti jika saling percaya dan menjaga.

Adeline menganggukan kepala penuh pasti menjawab pernyataan cinta Kenan. Mereka berdua tersenyum bahagia. Tangan indah Adeline yang sejak tadi dipegang Kenanpun langsung dikecup hangat sebagai bentuk kesetiaan.

Sekarang mimpi-mimpi keputusasaan-nya sirna oleh masa depan yang indah bersama Kenan. tak harus memikirkan sampai kapan nafasnya akan berhenti karena dunia menyimpan rahasia, dia tak akan membocorkan waktu perpisahan ketika pertemuan telah terancang dengan sempurna. Yang terpenting kata je t’aime dari mulut mereka berdua akan tetap dan tak akan pernah sirna. je t’aime.

                                                                       ***

Cerpen Karya Dinda Rizkyta IX B SMP 1 Kajen 2012/2013 
http://www.facebook.com/Dindaariizky

No comments:

Kami mengharapkan komentar dan kritikan yang membangun, ..