Case 3 : Sekuteng 1303 - Syarif Miftahudin's Blog

Friday, March 8, 2019

Case 3 : Sekuteng 1303


Hanya suara jangkrik krik … krik … krik … yang memecah keheningan menjadi semakin mengerikan. Kali ini Romi hanya berdua dengan Budi dalam menjalankan misinya.
Waktu menunjukan pukul 01.00 AM.
Target sasaran belum juga terlihat padahal Romi dan Budi telah menunggu lebih dari 3 jam.
“Kemana wanita yang katanya cantik itu, mengapa belum juga terlihat?”  Budi mulai bosan dan mengantuk.
“Mana pula aku tahu.”
“Tempe.”
Sekuteng … sekuteng …
“Wah ada tukang sekuteng tuh Rom. Perut juga perlu amunisi nih.”
“Boleh juga.”
Usul diterima dan akhirnya mereka memesan dua mangkuk sekuteng.
“Mang sini mang!” Panggil Budi semangat.
“Sekutengnya dua mang,” pinta Romi.
“Enggak kurang malam mang jualannya?” Tanya Romi kemudian.
“Di kampung ini tukang sekuteng dan mie tek tek beroperasi di malam hari den.”
“Weh, sudah bagai tuyul saja beroperasi pada malam hari.”
“Hehehe yah begitulah den”
“Mang sudah lama kau jualan di kampung ini?” Tanya Budi.
“Sudah sepuluh tahun saya keliling kampung ini tengah malam.”
“Apa tidak takut kalau ada hantu gentayangan disini mang?”
“Asal hantunya beli sekuteng saya dan bayar pakai duit asli hahaha,” si mang sekuteng tertawa membuat Romi dan Budi saling pandang.
“Menurut film yang saya tonton mang, biasanya hantu itu bayarnya pakai daun jambu” seloroh Budi kemudian.
“Korban film horor kau ini Bud,” Romi yang sedang mengunyah ikut mengomentari.
Dalam percakapan ringan mereka, seorang wanita cantik menghampiri. “Sendiri? Tengah Malam? Bawa Troli dan rambut tersanggul rapi. Mau apa?” Tanya Budi dalam hati.
“Sekutengnya neng?” Tanya si mang sekuteng
“1303 bungkus ya mang,” pinta wanita tersebut.
Romi menelan ludah mendengar pesanan 1303 bungkus sekuteng. Untuk apa wanita ini pesan sekuteng sebegitu banyak dimalam hari pula.
“Aduhai suaranya lembut sekali selembut kulit putih bersih miliknya“ Budi bicara dalam hatinya sembari menatap wanita yang ada dihadapannya.
“Neng malam-malam sendiri aja?” Tanya Budi.
Yang ditanya hanya tersenyum.
Lain dengan Budi yang terpesona, tidak perlu lama bagi Romi untuk menyadari bahwa wanita inilah targetnya.
Romi menjatuhkan sendok tepat di kaki wanita tadi lalu dengan cekatan mengikatkan benang putih pada gaun wanita tersebut. Wangi,  kakinya juga napak. Semua normal.
“Ini neng sekutengnya sesuai pesanan 1303 bungkus. Apa perlu saya bantu?”
“Tidak usah mang, kan saya bawa troli. Terima kasih.”
“Iya neng, hati-hati.”
Sebelum pergi wanita tadi tersenyum amat manis.
“Dia langganan saya disini.” Tanpa diminta mang sekuteng memberi informasi.
“Oh langganan ya, dimana tempat tinggal dia mang?” Tanya Romi.
“Saya tidak tahu. Pernah saya menanyakannya tapi yang ditanya malah balik nanya dan senyumnya membuat saya malu untuk bertanya ulang.”  
“Duh  ileh … Mang bisa jadi dia hantu gentayangan. Coba cek uangnya barusan! Berubah jadi daun tidak?”
Mang sekuteng mengecek uangnya … dan tidak terjadi apa-apa. Ini uang asli ditambah wangi menawan ciri khas wanita tadi.
“Saya tidak mengapa bila wanita tadi memang bukan manusia.”
Ucapan si Mang sekuteng tentu menghentikan gerakan Budi dan Romi yang sedang menyantap sekutengnya.
“Karena saya juga bukan manusia,” lanjut si mang sekuteng membuat Romi dan Budi bertukar pandang. Mereka punya pemikiran yang sama, terbukti ketika berbarengan mengalihkan penglihatan mereka pada mangkuk berisi sekuteng.
“Wkwkwkwkw.” si mang sekuteng terbahak-bahak.
“Aduh kalian ini masih saja percaya mistis. Tentu saja saya manusia normal seperti kalian. Sudah saya tebak pasti kalian mengira sekuteng itu berubah menjadi darah yang dipenuhi belatung.”
Romi dan Budi menghela nafas lega.
“Makasih mang, sekutengnya enak dan membuat perut kecang,” ucap Romi dengan memberikan beberapa lembar uang. Ia sedikit jengkel karena telah dikerjai.
“Sama-sama den. Saya permisi … hati-hati banyak kunti.” Tanpa wajah berdosa si mang sekuteng pergi begitu saja.
“Sial bikin bulu punduk berdiri saja.”
Btw target kita mana nih, Rom?”
“Heh kau kemana saja, target sudah ditangan. Ini … “ Romi menunjukan gulungan benang yang terus berputar.
“Kau …. “
Seakan paham apa yang akan dikatakan Budi, Romi mengangguk mengiyakan.
Let’s Go!”    
Go ….
Mereka berjalan mengikuti arah benang dalam genggaman Romi yang terus berjalan.
∞∞∞∞∞
“Gila Rom jauh bener. Benangnya masih terus berputar.”
02.00 AM
Benang yang mereka ikuti memasuki pemakaman.
“Wah wah  … ini kuburan Rom, duluan sana!” Budi ketakuan dan menyuruh Romi jalan duluan.
Perlahan Romi berjalan melewati beberapa makam yang berjajar rapi.
“Permisi … permisi … numpang lewat.”
Tiba-tiba Budi menahan langkah Romi dari belakang dengan tangan gemetar.
“Apa?” Romi menengok.
“Lihat itu!”
Wanita tadi …
Dia terlihat sumringah dan menari-nari diatas salah satu pusara. Jika harus jujur dimata Romi dan Budi wanita itu nampak sempurna.
Tidak lama setelah berputar bak berdansa tiba-tiba wanita itu menjatuhkan diri, menunduk dan menangis sambil memegangi wajahnya. Ketika wajahnya terangkat …
“Hah” Budi hampir menjerit namun tangan Romi telah lebih dulu membekapnya.
Buruk rupa. Wajahnya 180 derajat berbeda dengan wajah manis sebelumnya. Dia meraung dan menjerit lantas sekejap hilang dari pandangan Romi dan Budi.
Pukul 03.00 AM
Satu jam tadi begitu menakutkan. Budi kencing di celana.
“Sudah mau subuh, ayo kita lihat lebih dekat dimana benang ini berujung!” Ajak Romi melangkah.
Setelah mengikuti benang yang masih dalam genggamannya akhirnya Romi dan Budi terhenti di pusara yang bertuliskan Sekar Binti Djoko yang meninggal pada 13.03.1913.
“Ini makam sudah lama sekali Rom, kita belum lahir.”
∞∞∞∞∞
Rumor tentang wanita yang selalu ada setiap malam ditanggal 13 ini telah terjawab. Ia merupakan jelmaan seorang wanita bangsawan nan dermawan yang meninggal secara mengerikan. Mencakar-cakar muka dan lehernya sendiri kerena prustasi ditingal kekasih.
Menurut berita yang beredar wanita bernama Sekar ini suka membagi-bagikan makanan pada semua warga kampung.
Suatu hari kebahagian Sekar terenggut karena sang Ibu meninggal akibat sakit menahun.
Sekar berusaha bangkit dari keterpurukan. Menemukan cinta yang mengindahkan hari-harinya kembali. Namun belum kering luka lama sepeninggalan sang Ibu, wanita malang ini menemukan sang kekasih sedang kencan dengan Ibu tirinya yang dinikahi Bapaknya setahun semenjak kepergian sang Ibu.
Ia marah … ia menangis … Bapaknya juga telah tiada karena terjatuh dikamar mandi. Semua seperti disengaja. Sekar mencurigai ibu tirinya lah yang menyebabkan tewasnya sang Bapak.
Demi menjaga agar Sekar tidak buka suara, Ibu tirinya mengurung Sekar di gudang tanpa pentilasi udara. Sekar mengakhiri hidup setelah bertahan 5 tahun dengan cara bunuh diri yang ekstrim.
Ah … andai aku yang menjadi kekasihmu tentu tak akan kau tersakiti seperti ini, ucap Budi dalam hati.
∞∞∞∞∞
Ketika Romi dan Budi hendak kembali, mereka menemukan sebungkus sekuteng disetiap pintu rumah warga.







keyword
cerpen cerbung cerita pendek cerita bersambung misteri kasus pencurian pembunuhan empat sekawan metode trik strategi pencurian maling kejahatan cerita seru humor jenaka lucu serius seram misteri misterius horor emosi ngakak njungkel kejedag mbrojol tak terduga plot twist ending ide menulis tulisan berseri berlanjut cerita sedih seram menegangkan horor komedi comedy thriller karangan berkelanjutan mengengangkan ngakak

No comments:

Kami mengharapkan komentar dan kritikan yang membangun, ..