Cerpen : Berakhir Di Senja - Syarif Miftahudin's Blog

Saturday, February 2, 2013

Cerpen : Berakhir Di Senja

Sebelumnya saya minta maaf kalau cerpen buatan saya tak bagus dan kurang Gregett... maklum newbie..
Kalau mau CoPas silahkan, tapi sertakan nama pembuatnya..
“Wah… liburan tinggal menghitung hari…”
            Liburan kali ini bakalan Woww… bangetlah pokoknya, karena liburan kali ini bakalan ke BALI.!!!
Gianyar, Desember 2010 
Akhirnya sampai di Pelabuhan Gili Manuk. Tujuan pertama ke Tanah Lot, mumpung momentnya  lagi pas sore-sore jadi bisa sekalian lihat sunset. Pas mau ke tepi pantainya, belum juga sampai tapi udah bisa kerasa, gemuruh ombaknya…
Saking asyiknya ngerasain suasana pantai, sampai gak sadar keadaan kanan kiri,
“Bregg…”
Aku langsung kaget, tanpa sadar aku nabrak seorang cewek, cantik sihh… wajahnya oriental, kayaknya wajah-wajah jepang nih..terus aku nyapa.
            “Konichiwa..”
Sok-sok bisa bahasa jepang, terus cewek itu jawab.
            “Konichiwa… Hom swastiastu…”
            “Hom swastiastu…” jawabku.
Lalu si cewek itu menyodorkan tangan dan memperkenalkan dirinya.
            “Lian… salam kenal ya..”
            “A..aa..ku… Arrr…kaa..nnaa…”
            “Oh, Arkana. Kok ngomongnya agak belibet kayak gitu.?
            “Oh, sorry gagap, maklum baru kali ini ada cewek yang kenalan sama aku, biasanya kebalik..”
            “Oh, gitu..kita jalan bareng-bareng yuk…”
Terus aku sama Lian sepanjang sore bersama dan menikmati sunset bareng-bareng. Setelah selesai, aku dan Lian pulang bareng, kebetulan rumah Lian deket ama Hotel Nirmala, hotel dimana aku akan menginap.
            Esoknya aku jogging di sekitar hotel, terus sama modus aku sampe di depan rumah Lian, berharap Lian lihat aku dan ngajak kedalam. Dia lihat aku, terus ngajak aku masuk.
            “Ehh… ada Arkana… masuk Ka..”
            “Ehh… iya…. Ohayo..”
            “Ohayo…
Aku sempet tercengang pas mau masuk ke rumah Lian, habis gapuranya besar banget… disana ada ayah Lian yang sedang duduk di teras depan rumahnya, terus aku dikenalin sama ayahnya. Disini aku harus nahan ketawa tingkat dewa,
            “Kana… ini ayah aku…. Namanya I Ketut Gedde Manuke”
Ini yang bikin aku nahan tawa, pasalnya kalau di bahasa jawa artinya lain, sambil nahan tawa aku balesin,
            “Emmmm… iya… Arkana om…”
            “Oh, ini Arkana, temen baru kamu yang kamu ceritain tadi malem.”
            “Iya yah…”
            “Hhehee…” aku ketawa tipis.
Dalam hatiku bertanya, hah?Aku diceritain Lian ke ayahnya? Biasanya kalo udah diceritain ke ortu itu biasanya spesial, apa mungkin aku spesial buat Lian? Ahh..whatever lah ya…
            “Yah, aku ambil minum dulu ya…”
            “Ya..bawain juga buat Kana.”
            “ehh… nggak usah repot-repot.” Padahal aku lagi haus-hausnya.
Pas Lian pergi buat ambil minum, Om Ketut ngajak ngobrol aku.            Dia pesen padaku agar selalu menjaga Lian, karena Lian sudah mulai kepincut padaku... *jiahh....
Denpasar, Juli 2011 
Berbulan-bulan aku di Bali, akhirnya aku memutuskan pindah sekolah ke Bali setelah lulus SMP.Setelah lulus SMP aku daftar ke salah satu SMA terfavorit di Denpasar, aku juga satu kelas dengan Lian.
Setelah cukup lama mengenal satu sama lain, akhirnya kita memutuskan untuk melanjutkan hubungan pertemanan ke tingkat selanjutnya. Berbulan-bulan aku pacaran sama Lian, sampe akhirnya tanggal 27 Juli 2011, tepat dimana Lian berumur tujuhbelas tahun.
Aku ngajak Lian ke seuatu tempat dinner ternama di Denpasar, disana aku udah siapin surprise spesial buat Lian.Ditengah-tengah surpriseku, Lian terlihat pucat dan secara mengejutkan keluar darah dari hidungnya.
“Lian… itu ada darah…”
“Darah? “ dia mengusap darah yang keluar dari hidungnya.
“Aku anterin ke dokter ya.”
Lalu, aku dan Lian ke dokter, sampainya disana, aku langsung calling Om Ketut.Om Ketut langsung ke rumah sakit.Om Ketut ikut ke ruang pemeriksaan bersama Lian, sedangkan aku menunggu di luar, karena hanya orang tua atau kerabat yang boleh masuk.Setelah mereka keluar, aku langsung nganter mereka kerumah.
Sesampainya di rumah, Lian disuruh Om Ketut masuk kamarnya, dan aku diajak ngobrol di ruang tamu.Aku Tanya ke Om Ketut.
“Emang, Lian kenapa?”
“Dia sudah mencapai titik kronis penyakitnya.
“Apa penyakitnya?”
“Sejak kecil, Lian sudah difonis dokter mengidap sebuah syndrome, dimana dia nggak akan bertahan hidup melebihi usia tujuhbelas tahun, kecuali ada yang mau mendonorkan sumsum tulang belakang, satu-satunya yang bisa mendonorkannya adalah ibunya.Tapi ibu Lian sudah meninggal saat Lian dilahirkan.”
“Kasihan Lian…”
“Mulai besok, kamu nggak usah deket sama Lian lagi, ini demi kebaikan kalian berdua.”
“Tapi om..”
“Ini permintaan Lian.”
Sampai disini aku tak tinggal diam, aku langsung contact temen facebook, twitter, friendster, G+, dan sebagainya, kali aja ada temenku yang punya kenalan yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya, karna aku tak mungkin bisa, karna golongan darahku A, sedangkan Lian O. ada salah satu kenalan temenku yang golongan darahnya O, tapi nggak cocok dengan Lian, karena alasan tertentu, ada juga yang cocok semuanya, tapi orangnya tidak mau untuk mendonorkan sumsumnya, sampe aku berlutut meminta pertolongannya dia tetep nggak mau.
Aku hampir putus asa, karena semua orang tidak ada yang cocok, kecuali orang tadi.Aku kembali ke orang itu, kali ini aku terus memohon dan memohon, demi keselamatan Lian.Tapi dia tetep bersikeras dengan keputusannya.
Sorenya, aku diajak Lian ke tempat dimana kita pertama bertemu. Disana aku mendorong kursi roda Lian, sampai di gapura langkahku berhenti, karna tak mungkin mendorong kursi roda dengan medan seperti ini, akhirnya aku menggendong Lian sampai ke tempat favorit, dari tempat terfavorit kami berdua, yaitu Tanah Lot.Disana kita mengingat masa-masa dimana kita tidak di permasalahkan dengan masalah ini.Di sela-sela obrolan kami, disana ada nilai kehidupan dari sebuah kalimat yang terucap oleh Lian.
“Kamu lihat matahari disana.?”
“Ya, emang kenapa.?
“Matahari itu bagaikan kehidupan, adakalanya matahari pun terbenam, kemudian esoknya akan digantikan dengan cahaya baru yang lebih terang. Seperti manusia pasti akan mengalami kematian, kemudian kehidupan akan dilanjutkan oleh anak cucu kita kelak.”
“Kalau gitu, besok kalau udah nikah. Kita harus punya anak yang banyak, agar kelak penerus kita pun banyak.”
“Kamu itu....”
Disana kami mengenang dimana kami terus menikmati sunset dimasa lalu, melihat sang surya terbenam di ufuk barat, merasakan deburan ombak yang menghempas karang.
“Ini mungkin nge-date kita yang terakhir…” Lian mengejutkanku.
“Lha, kok.?”
“Karna mungkin besok, atau lusa aku sudah tiada.”
“Jangan ngomong kayak gitu…. Pamali…”
Secerca harapan datang dari seseorang misterius, yang kemarin aku berlutut di depannya, akhirnya kini dia tersadar. Tapi diatak mungkin datang sekarang karena kini jalan di daerah Denpasar sedang di rekonstruksi, jadi dia harus memilih jalan memutar, otomatis dia akan menempuh jarak yang lebih jauh.
            Belum sampe dilaksanakannya trasplantasi sumsum tulang belakang, keadaan Lian semakin buruk, dan akhirnya Lian berada di titik terberatnya yaitu koma. Sedangkan orang itu belum sampai, aku teruscontact dia terus menerus, tapi hp-nya selalu mailbox .
            “Sudahlah… itu mungkin bukan rezeki Lian..” kata Om Ketut.
            “Tapi, ini satu-satunya om…”
            “Sabar…”
Saat aku sedang kebingungan, tiba-tiba keadaan Lian memburuk, disaat bersamaan orang misterius datang, tapi transplantasinya tak mungkin dilakukan karena, demi kebaikan kondisi Lian.
            Tiba saatnya kondisi paling kritis yang dialami Lian, dokter berusaha keras mempertahankan hidup Lian, aku dan Om Ketut terus berdoa demi Lian.Dokter keluar dengan wajah suram, dan aku sudah bisa menebak jawabanya.Tapi aku tetap bertanya.
            “Lian, gimana keadaannya.?”
            “Kami sudah berusaha dengan sekuat tenaga, tapi apalah daya manusia, kuasa Tuhan tak ada tandingnya…”
Aku hanya berusaha ikhlas, kemudian Om Ketut memberikan sebuah surat ke aku.
            “Kana, ini surat dari Lian, yang ditulis sebelum dia meninggal.”
Tanpa pikir panjang, aku langsung membukanya.
***
Untuk seseorang yang telah menabrakku.
                Ini mungkin surat pertama dan terakhirku, tapi walaupun begitu, inilah surat sederhanaku yang ditulis dengan tulisan tangan yang lecek, karna aku tak sanggup lagi menulis dengan rapih. Hmm… bila ada tawa pasti ada tangis disampingnya, bila ada kehidupan di dunia ini, maka ada kematian disisinya.Begitulah hidup, ikhlaskanlah aku, ketimbang aku masih hidup, aku hanya menyusahkanmu, menyuruhmu kesana kamu ikuti, nyuruh kamu gitu, kamu ikuti juga. Disini aku sudah tenang, disini aku sudah tak merasakan sakit, sebenarnya aku ingin kembali ke masa lalu, masa dimana aku tidak merasakan sakit, masa dimana aku senang, sedih, merasakan haru, dan masa dimana aku bersama ayah dan kamu. Tapi semua itu berarti aku harus menyusahkan kamu dan ayah lagi… aku juga telah meminta suatu hal ke Tuhan…
            Tuhan, bolehkah aku meminta untuk memberikan harum bunga melati kepada setiap orang yang kutinggalkan?Biarkan harum tersebut menghapus duka dalam hati mereka, biarkan harum tersebut membawaku padamu.Karena aku telah siap untuk tinggal bersamamu di istanamu.Dan biarkan harum tersebut mengakhiri duka sedih ini menjadi kebahagiaan. Biarkan harum tersebut menjadi pertanda aku telah pergi dari dunia ini….
            Tertanda, Ni Wayan Lian Azalia...
***
Sejak saat itu aku mulai berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Lian, pada upacara Ngaben-nya Lian aku dan keluargaku berserta ayah Lian, mengikuti upacara dengan khikmat, selepas itu aku dipercayai untuk menghanyutkan abu jasad Lian ke lautan. Setelah itu aku tidak langsung pulang, terlebih dahulu aku mengunjungi tempat favorit kami, disana aku menyaksikan senja yang sedang menghilangkan dirinya, disampingku aku melihat bayang Lian yang mengucapkan salam perpisahan…
            “Hom syifa... syifa... syifa...”
            “Hom syifa... syifa... syifa...”
            “Lian, izinin aku moveon ya….”
            (Lian tersenyum dan menganggukan kepala).
Sejak saat itu, aku secara rajin mengunjungi tempat ini, tempat dimana aku pertama kali bertemu Lian, tempat dimana kami bersuka ria, tempat dimana kami saling meluapkan perasaan kami bersama pada senja yang temaram, ohh... tapi senja kelabu ini juga yang telah mengingatkanku, bahwa disinilah aku dan Lian terakhir bertemu.
~ArachnizAzalea~

No comments:

Kami mengharapkan komentar dan kritikan yang membangun, ..