Syarif Miftahudin's Blog: The Case
Showing posts with label The Case. Show all posts
Showing posts with label The Case. Show all posts

Sunday, July 12, 2020

Case 9 : Selfie ala Profesor
7:54:00 AM0 Comments

Harusnya Romi lulus dengan nilai cumlaude tahun kemarin. Hanya saja praktikum telah membuat semua kepastian itu tertibun tanah.  Semua ini karena ulah seorang Dosen yang menjadikan Romi sebagai musuh bebuyutan persaingan cintanya. Memang susah kalau mendapapatkan Dosen baperan, bisa –bisa nilai semua ujian di pengaruhi oleh mood-nya.

Mari mengenang warna-warni masa perkuliyah Romi.

∞∞∞∞∞

5 tahun lalu ketika Romi baru menjejakan kakinya di kampus ini ia telah menjadi incaran banyak gadis, tidak terkecuali para seniornya. Perawakan proporsional dan wajah menawan ada dalam diri Romi ditambah kecerdasaan yang ia miliki membuat namanya melambung di kampus ini.

Diam-diam ada yang tidak suka atas keberadaan Romi, seseorang itu merasa kehadiran Romi telah menyaingi keberadaannya. Terlebih ketika melihat Romi bergandengan tangan dengan Mahasiswa perempuan yang menjadi idolanya sejak lama. Namun naas, cintanya bertepuk sebelah tangan.

Seseorang itu adalah Dosen di kampus ini. Ia telah mati-matian memperjuangkan cintanya dan yang diperjuangkan mati-matian pula mengenyahkannya.

Pernah suatu hari ~~

“Saya mencitai kau.” 

“Saya tidak suka pria berkepala botak.”

Si Dosen berpikir keras bagaimana cara menumbuhkan rambut dikepalanya dalam satu hari demi sang pujaan hati.

Keesokan hari si Dosen kembali menemui gadis pujaanya, ia telah memiliki rambut.

“Saya telah memiliki rambut. Mau kah kau menikah dengan saya?” 

“Tidak bisa, itu rambut palsu. Dan kau memasangkannya keliru, terbalik …”

∞∞∞∞∞

Singkat cerita si Dosen ini berusaha move on namun ketika melihat Romi dan gadis pujaannya berboncengan bareng ia kembali merana. Gagal move on.

“Rom apa kau tahu, aku telah lama memendam rasa,”  ucap sang gadis dengan begitu manis.

Pipi Romi merona merah, ini kali pertama jantungnya berdebar saat dengan seorang wanita.

“Jika kau tidak bicara mana mungkin aku tahu.”

“Untuk itu aku bicara. Sampaikan pada saudaramu aku mencintainya sejak lama.”

Hancur sudah … Romi kira gadis ini mencintaiya ternyata bukan, bukan sama sekali. Ia hanya mendekati Romi untuk mencari tahu tentang Fajar yang tidak lain adalah saudara Romi.

∞∞∞∞∞

4 tahun berlalu tibalah detik-detik masa perkuliyah berakhir. Tentang cintanya yang tertolak bahkan sebelum tersampaikan sudah lama mati dalam ingatan Romi.

Romi hendak mempresentasikan aplikasi yang telah ia buat selama sebulan penuh. Aplikasi yang bisa dikatakan luar biasa untuk ukuran Mahasiswa strata 1.

Ditengah-tengah presentasinya tiba-tiba Aplikasi eror dan mengubah laman menjadi tampilan percakapan saat Romi ditolak Sherly si gadis pujaan Dosen plontos itu.

Romi meyakini semua ini adalah ulah si Dosen plontos. Meski pada akhirnya Sherly menikah dengan Fajar tetap saja Romi dijadikan sebagai tersangka atas tertolaknya cinta sang Dosen terhadap gadis yang juga telah membuat Romi merana sesaat.

Sial … percakapannya empat tahun lalu telah direkam. Ini memalukan, seorang Romi ditolak perempuan untuk pertama kalinya.  Ini cinta pertamanya, cinta pertama yang naas. 

Video presentasi Romi yang gatot beredar di seluruh sudut  kampus. Ini membuat Romi malu bukan kepalang. Mendadak tenar dengan gelar baru yakni Si Jenius yang ngenes. Pertunjukan ini berhasil membuat Romi merasa dilemparkan ke masa lalu.

Akhir cerita Romi mendapatkan nilai buruk atas presentasinya.

∞∞∞∞∞

Begitulah kurang lebih yang mewarni kelulusan ST. Romi tahun lalu di salah satu Universitas di Kotanya.

Hari ini Romi pergi ke Universitas tempat dulu ia kuliyah dengan dalih berkunjung ke perpustakaan. Tak ada yang tahu bahwa sebernarnya Romi akan membobol situs universitas, bukan untuk menghancurkannya, tenang saja! Romi hanya akan bersenang-senang untuk memberi kenangan pada Dosen tercintanya yang ternyata telah menjadi seorang Profesor.

Web ini adalah tanggung jawab Profesor dan menurut informasi yang Romi dapatkan besok adalah jadwal mahasiswa melaksanakan praktek di Lab dengan mengakses situs kampus.

Dia boleh saja seorang Profesor, muda dan kaya tapi kisah percintaannya sangat menyedihkan. Jelas saja! Prof selalu memabuat ilfeel para wanita denga gayanya yang beuh … norak abis. 

“Prof harus merasakan apa yang dulu aku rasakan.” 

“Dendam kesumat kau Rom. Padahal Sherly sudah menikah. Bukan dengan kau ataupun Profesor, kalian berdua sama-sama naas. Hahaha.” Budi menertawakan Romi yang terlihat serius di depan laptopnya.

“Tetap saja  prof  botak itu telah mempermalukan. Dasar tidak profesional.”

Santai … ini hanya lelucon.

Meski Romi lulus dengan nilai jelek tetap saja kecerdasan telah mendarah daging dalam otaknya. Maka apalah asrti sebuah kertas dengan sederet nilai yang katanya great itu. Kecerdasan sesungguhnya tidak bergantung pada Ijazah. So … woles aja.

 “Wifi konek?” Tanya Romi.

“Siap.”

“Jangan sampai jaringan terputus tiba-tiba bahaya!”

“Halah memangnya kartu kuota kau yang hanya konek pada malam hari saja.”

Pukul 10.00 PM kampus telah sepi, Romi dan Budi mulai beraksi.

“Gilaa ... situsnya berkembang pesat. Universitas ini lebih maju berkat prof yang mahir di bidang teknologi”

“Mau di tampol kau Bud? Jelas-jelas prof memanipulasi semua ini, dia peniru.”

“Ah … selalu kebakaran jenggot kalau dengar nama profesor,” komentar Budi.

“Besok akan ada kejutan untuk Profesor kecintaan kau Rom. Oh … malang niang kau prof  bersiteru dengan kawanku yang jenius ini. Hahahahaha. ” 

“Berhenti tertawa! Bisa saja tawamu mengundang para dedemit datang ke Lab ini.”

Budi segera tutup mulut.

Fuh … situs ini memiliki pertahanan yang kuat, tidak mudah untuk sekadar merubah laman depannya.

“Gila … si Prof melakukan pertahanan yang tebal Rom. Berlapis-lapis.”

“Iya persis kau berlapis-lapis pakai baju agar tidak terlihat kurus.”

“Wkwkwkw” Budi cekikikan mengingat kini ia mengenakan 5 lapis kaos ditambah 1 kemeja monochrome.

“Bud, bayangkan besok ketika semua mahasiswa menyalakan komputer di lab ini, kepala bodak Profesor lah yang muncul pertama dilaman web lalu diringin slow motion selfie-selfie ala profesor yang norak abis. Tangan ditaruh diatas bibir sambil manyun-manyun.” 

Tidak mampu menahan tawa, Romi dan Budi cekikikan sampai guling-guling hingga suara seorang perempuan ikut-ikutan tertawa hihihihih …. Di balik rak buku sana wanita berjubah putih menatap Romi dan Budi bergantian lalu tertawa lagi hihihihi ….

∞∞∞∞∞

sumber : https://www.deviantart.com/gleamingscythe/art/The-Black-Wing-Computer-Lab-109459289

Esok tiba.

Romi telah memasangnkan alat semacam teamviewer tersembunyi sehingga brainware tidak menyadari bahwa aktifitasnya sedang di tonton dua sekawan Romi dan Budi di basecamp sambil menikmati secangkir kopi.

Ketika para mahasiswa menyalakan komputer, tara … wajah prof menghiasi sebanyak 150 monitor.

Para mahasiswa menahan tawa, sedangkan Profesor tidak menyadari hal tersebut.

“Ada apa ini kenapa kalian menutup mulut dengan bahu berguncang?”

“Anu Prof ….”

“Anu apa anu?”

“Botak Prof.”

Profesor refleks memegangi kepalanya seperti mencari sesuatu. Akankah ada ketombe di kepala Profesor yang tidak memiliki rambut? Ah … jawab saja sendiri!

Sorry Prof sepertinya komputer saya eror.”

Profesor menghampiri, ketika melihat monitor mukanya sudah bagai kepiting rebus.

Dilain tempat Romi dan Budi membayangkan ekspresi profesor lantas tertawa puas.

Jadwal berantakan dan ujian diundur. Yes … bukan hanya mengerjai profesor, Romi dan Budi juga telah menyelamatkan para Mahasiswa yang belum siap ujian praktek.

∞∞∞∞∞

Tenang saja Romi hanya sekali mengerjai Profesor, ini hanya semacam ucapan selamat tinggal sebelum Romi DKK meninggalkan Kabupaten dan bermutasi ke Ibu Kota.

Bye Prof … salam hormat dari Mahasiswa kesayanganmu.

Reading Time:
"The Case" Series

Thursday, October 10, 2019

Case 8 : nayA
5:23:00 PM0 Comments
Ina memang penuh dengan imajinasi dimanapun, kapanpun tentang apapun … dikepala Ina hal sepele bisa menjadi panjang kali lebar hingga menemui akar. 

Tadi malam Ina dan Indah pergi ke XXI, rencana awal mereka akan menonton Animasi namun setibanya disana Ina memaksa Indah untuk menonton film horor.

“Macam pemberani saja kamu In, mau kencing tengah malam saja membangunkan orang yang lagi tidur.” Komentar Indah ketika Ina selesai membeli tiket masuk.

“Ini film seru Ndah, kita wajib nonton.”

Ina memang unik, terkadang dia penakut namun pada saat-saat tertentu menjadi sangat pemberani. Kalau kepepet. Buktinya meski Indah meledeknya penakut tapi Ina berani juga ke toilet saat film sedang berlangsung. Yes … the power of kepepet dari pada pup dicelana dan membuat seisi room theater  keracunan.

“Sudah pup-nya In?” Tanya Indah setelah Ina kembali kurang dari 5 menit.

“Buset Ndah susah keluar … mana sepi banget lagi, kebayang enggak sih pas lagi pup  tiba-tiba ada kepala buntung nongol dari dalam kloset,” Tuh, kan Ina memang suka berimajinasi.

“Hahaha kau ini keterlaluan kalau mengkhayal, tapi sempet cebok, kan?” Tanya Indah ragu.

“Enggak Ndah Engga, keburu ada yang mengetuk dari kloset makanya aku kabur.” Ina sengaja membuat Indah jijik.

Indah mencubit Ina “Ayok nonton lagi, jangan berisik!” 

Sepanjang menonton film horor ini Ina malah cekikikan sendiri membuat Indah waspada kalau-kalau Ina keserupan.

“In berisik kau ini.”

“Lucu Ndah hahahaha, aku lagi bayangin kalau hal itu terjadi di sini.”

“Husss ngaco…”

∞∞∞∞∞

Setelah Ina dan Indah selesai menonton, mereka menghubungi Romi dan Budi memberi kabar jika mereka ada di mall tidak jauh dari Saladdin square.

Tidak lama Romi dan Budi datang lantas bergabung bersama Ina dan Indah, mereka berburu makan malam. Tidak di pinggiran jalan, kali ini mall. Nampaknya mereka baru mendapat durian runtuh.

“Bagaimana filmnya tadi?” Tanya Budi.

“Lumayan Bud, menghibur,” jawab Ina.

“Menghibur?”

“Iya Rom menghibur … tuh film horor kocak abis apalagi ketika setannya bergerombol mengincar 1 orang, kasihan sekali tokoh di film tadi, but seriously ekpresinya dapat abis … aku membayangkan kalau Budi yang jadi tokohnya dan dikejar-kejar setan.” Indah tertawa sendiri, yang lain memperhatikan khawatir. Ina memang memiliki dunianya sendiri kalau sudah begini.

“In dari tadi kau tertawa terus, aku bukan takut nonton filmnya malah lebih menyeramkan melihat kau,” Indah nampak kesal.

∞∞∞∞∞

Selasa, 05 Maret.

“Rom … aku dan Indah sudah di statiun” Ina berbicara pada Romi via telepon.

“Romi dan Budi akan segera sampai Ndah,” tanpa diminta Ina memberi informasi pada Indah yang nampak sudah bosan menunggu.

“Lelet sekali dua pria itu.” Indah berseru ketus.

Akhirnya Romi dan Budi tiba di statiun, mereka nampak semangat sekali menjalankan misi kali ini.

“Serius kita naik RKL Rom?” Tanya Indah.

“Tentu, kalian harus tahu bagaimana rasanya naik KRL.” Jawab Romi.

Nah … KRL tujuan mereka telah tiba di statiun. Buset … padat sekali bagai entepan pindang. Romi dan Budi lari ke gerbong umum. Sedangkan Indah dan Ina dengan susah payah akhirnya berhasil masuk gerbong khusus perempuan.

Andai Indah dan Ina bisa bicara secara batin, mungkin saat ini mereka sedang bergosip riya mengomentari bau badan salah satu penumpang yang membuat mual, belum lagi seorang wanita muda yang tidak tahu malu duduk di kursi prioritas dan membiarkan seorang Nenek hanya berpegangan pada pengail saja.

Entah bagaimana keadaan di gerbong umum, sepadat ini kah? 

Akhirnya setelah melewati 8 statiun, di statiun ke-9 banyak penumpang yang transit ke KRL tujuan lain. Sedikit bisa bernafas lega.

“Ndah kebayang enggak, kejadian seperti di film horor kemarin terjadi di KRL ini. Kemana kita akan lari? Secara semua gerbong dipadati penumpang yang entah akan pergi kemana.”

“Jangan berhalusinasi deh!”

“ Ih …. Ndah di film yang kita tonton kemarin malam setiap orang yang tergigit dan terkena virus akan menjadi mumy  lalau memangsa manusia lain untuk dijadikan mumy pula.”

“Maksud kau semua orang di kereta ini akan menjadi mumy, hah?” Tanya Indah berusaha menanggapi Ina. Ia hanya bergurau.

“Ndah … kan, di film yang kita tonton semua orang dari gerbong belakang berlarian ke gerbong depan demi menyelamatkan diri. Nah kalau sampai terjadi sekarang, bagaima mana orang-orang di gerbong belakang berlari kesini secara berdesakan? Pastilah kita semua akan menjadi mumy secara estapet.” Tanpa memperdulikan tanggapan Indah, Ina terus bermain dengan imajinasinya.

“Kalau ternyata virus itu ada di gerbong depan, itu tandanya kita yang akan duluan menjadi mumy, hahahaha” Indah jadi tertawa  menanggapi temannya ini.

Belum selesai Indah tertawa tiba-tiba gerbong kereta terasa berguncang. Semua penumpang saling bertukar pandang bagai bertanya ada apa?.



∞∞∞∞∞

Orang-orang saling berlomba untuk melangkah ke gerbong depan, namun apa daya KRL bukanlah kereta seperti yang ditonton Indah dan Ina tadi malam. Ini KRL Ibu Kota yang setiap harinya dipadati penumpang. Tamat sudah jika yang diimajinasikan Ina benar-benar terjadi.

Sesak sekali, semua orang berusaha bertahan dan menyelamatkan diri masing-masing. Untunglah dalam beberapa detik KRL berhenti di statiun ke-10.

“In ayo kita turun!” Indah yang semula santai menanggapi Ina kini terlihat panik.

“Jangan Ndah! Menurut film yang kita tonton semalam, semua orang di statiun ke-10 ini telah terjangkit virus mumy.” Oh … God Ina benar-benar telah membuat Indah takut.

“Lalu kita harus bagaimana?” Tanya Indah ketika semua orang berusaha keluar dari dalam gerbong.

Waktu 5 menit tidak cukup untuk mengeluarkan semua penumpang yang ada dalam RKL, masih ada puluhan orang terjebak dalam gerbong, pintu otomatis segera tertutup dan KRL kembali melaju. Semua penumpang terlihat panik, mereka semua berkumpul dalam 2 gerbong dan menutup pintu penghubung antara gerbong 2 dan 3.

“Dimana Romi dan Budi?” Indah bertanya panik..

“Aku tidak tahu Ndah, ini persis adegan di film itu … kita terpisahkan dengan sahabat kita, dan akhirnya mereka menjadi mumy.”

“Aaaaaa …. Please Ina berhenti berpikir yang tidak-tidak!” 

Dalam kepanikan, Indah dan Ina mendengar teriakan Romi yang meminta mereka membuka pintu menuju gerbong 2.

Ina dan Indah berusaha menerobos kerumunan manusia yang ada di gerbong 1 dan 2. Tepat saat Indah dan Ina berdiri di depan pintu penghubung gerbong 2 dan 3 semua orang menghalangi mereka agar tidak membuka pintunya.

“Teman kami ada disana, tolonglah!”

“Jangan gila kalian. Mau cari mati, hah?” Tanya salah satu penumpang berperawakan besar dengan tato menghiasi lengan dan lehernya.

Dibalik pintu Romi terus berteriak.

“Indah, Ina buka pintunya … Budi dalam bahaya!”

Adegan saling dorong mendorong tidak bisa dihindari, Indah berusaha menghadang penumpang lain yang berusaha menghalangi mereka membuka pintu, sedangkan Ina berusaha membuka pintu yang telah dipasang pengikat kuat.

Setelah berusaha dalam kepanikan akhirnya pintu gerbong terbuka … semua terpaku dan mata mereka terfokus pada Budi yang kejang-kejang dengan tidak karuan. Memang menyeramkan.

“Ayan-nya kembali kambuh?” Tanya Indah.

“Iya … dan obatnya ada di tas kamu Ina.”

∞∞∞∞∞

Nampaknya semua penumpag KRL kala itu terbius oleh film horor yang disutradarai Yeon Sang-ho asal korea selatan, Train to Busan.

Reading Time:

Sunday, September 22, 2019

Case 7 : Gray and Green
4:48:00 PM 3 Comments
Hari ini terik sekali. Romi melaju di jalanan Ibu Kota dengan mogenya.
Dalam perjalanannya menuju café yang telah di tunggu Budi, Ina dan Indah Romi mengamati seorang pengemis cilik berpeluh keringat di dahinya. Melihat pemandangan seperti ini Romi menelan air liurnya sendiri, haus.
Kebetulan rambu sedang lampu merah, Romi bisa mengamati anak disebrang sana dengan cukup lama. Bocah perempuan kira-kira usia 7 tahun yang seharunya mengeyam pendidikan namun malah menjadi anak jalanan yang meminta-minta. Betapa rugi waktu yang telah dia buang.

∞∞∞∞∞
Romi tiba di café corner, disana telah ada Budi, Ina dan Indah.
Sorry telat.” Romi menyapa ketiga temannya yang telah menunggu.
“Santai dud!” Sahut Indah.
Romi mengambil posisi duduk dan meneguk lemon tea Budi, “Tadi gua lihat pengemis jalanan.”
“Yaelah … seperti baru pertama lihat saja. Ini Ibu kota Rom segala macam hal dari pengemis hingga koruptor ada disini.”  Terang Budi yang akhir-akhir ini sudah tidak lemot lagi.
“Iya gua tahu. Tapi bukan itu maksudnya, akhir-akhir ini gua kepikiran aja untuk mencari tahu penyebab mereka mengemis.“
“Cari duitlah mereka,” sambung Indah.
Romi menggaruk kepalanya yang tidak gatal hendak mencari kalimat yang pas untuk memulai topik pembicaraan.
“Maksud gua gini, kita kan sedang tidak menjalankan misi apapun. Apa kalian enggak jenuh dengan rutinitas normal seperti ini? Sudah lama sekali kita beku dan malah menghabiskan waktu di café-café nongkrong unfaedah.”
Ina menatap Romi manja, mulai mengerti kemana arah pembicaraan Romi.
“Romi benar, akhir-akhir ini kita seperti menjelma menjadi kaula muda statis.”
“Jadi, apa rencanamu Rom?” Tanya Indah.
“Tidak ada … gua hanya mau berkenalan lebih jauh dengan para pengemis cilik itu.”
“Sebetulnya mereka bisa diarahkan bila mendapat dukungan dari lingkungan, keluarga misalnya.”
“Dukungan melanjutkan pendidikan adalah nomor sekian Rom. Kita tidak bisa menutup mata bahwa ada andil orang tua dalam tumpahnya pengemis cilik di jalanan.” Tutur Budi yang semakin mengalami kemajuan.
Well … ini sudah menjadi rahasia umum, para bocah dipaksa mengemis oleh orang tuanya sendiri bahkan dijadikan alat untuk mengundang empati orang lain.” Indah menambahkan.
“Belum lagi peran serta preman. Siapa yang tidak tahu jika di wilayah tertentu setiap pengemis wajib setor pada preman penguasa di tempat tersebut, kasihan sekali mereka tidak seberuntung kita,”  sambung Indah sembari mengaduk-aduk green tea latte yang tinggal setengah gelas.
“Itu dia … apa tidak seharusnya kita melakukan sesuatu?” Pertanyaan Romi serupa pernyataan.
∞∞∞∞∞
Selesai lunch mereka berencana mengunjungi Perpustakaan Daerah untuk sekadar merefresh otak.
Tepat ketika keluar mall seseorang menubruk Ina hingga terjatuh.
“Kamu  tak apa Ina?” Tanya Indah.
Fine …
Tanpa rasa bersalah bocah yang menubruk Ina tidak menoreh sedikitpun, ia justru  berlari menghindar pengejar sekuat tenaga.
Dari belakang terdengar riuh berteriak “copet … copet … copet…”
Tanpa pikir panjang Indah menaburkan serbuk pelican sehingga para pengejar berjatuhan dan mereka berempat berlari mengejar anak kecil itu.
Kemajuan yang cukup signifikan seperti telah bisa berbicara bahasa latin mereka satu pemikiran untuk mengejar bocah yang membawa kabur sebuah tas branded ungu.
Yang di kejar hilang dari pandangan. Romi, Budi, Ina dan Indah mengedarkan pandangannya disekitar. Ini perkampungan kumuh pinggiran Ibu Kota.
Guys … lihat!” Indah menunjuk arah jam 3.
Anak kecil itu masuk ke sebuah rumah kardus. Romi DKK mendekat pelan-pelan.
“Mak, ini abang ada uang untuk menebus adik dari preman sebelum adik di jual.”
“Dari mana kau dapatkan uang ini?”
“Aku menemukannya di tong sampah. Mungkin orang kaya yang telah membuangnya karena kebanyakan uang.”
“Aih … bodoh sekali alasannya”, umpat Budi dalam hati “Mana ada orang buang uang, orang buang sial banyak.”
Romi, Budi, Ina  dan Indah saling tatap ketika anak itu keluar.
“Kau pencuri!” Indah menuding.
“Apa urusan kau?”
“Kembalikan tas itu pada pemiliknya!” Pinta Romi dengan muka datar.
“Tidak!”
Anak itu pergi menjauh dari rumanya dibuntuti Romi DKK.
“Kedatangan kalian kesini bisa membunuh Ibuku.”
“Kau lah yang akan membunuh Ibumu jika dia tahu kau sudah mencuri.”
“Kalian tidak tahu apa-apa. Pergi!”
“Kita akan membantumu,” Indah berkata mantap.
“Halah … orang-orang kaya seperti kalian mana peduli dengan kami yang hidup sengsara, bagi kalian kami adalah virus yang harus dijauhi.”
Mereka bernegosiasi. Akhirnya dengan jurus jitu Budi si anak yang diketahui bernama Gray ini setuju menyerahkan tas itu kepada pemilikinya memalui Indah dan Ina. Maka detik itu juga Indah dan Ina kembali ke café tadi dan menyerahkan tas berisi gepokan uang itu pada security.
Sedangkan Romi, Budi dan Gray merencanakan bagaimana caranya masuk ke markas besar bang Anton si preman yang telah menculik adiknya.
Menilik kebelakang ternyata Gray sudah tidak setor beberapa minggu karena uang hasil ngamennya dipergunakan untuk pengobatan sang Ibu. Jadilah si Anton membabi buta dan menculik adiknya yang bernama Green.
Dia mengancam akan menjual Green keluar negeri kalau tidak bisa memberi uang sebesar  5 juta bagaimanapun caranya. Usul mencuri juga datang dari Anton.
∞∞∞∞∞
Sekitar pukul 05.00 PM Romi DKK sudah bergerak menuju markas besar Anton.
Gudang kuno tidak terawat yang dijadikan sebagai markas preman-preman wilayah ini. Terlihat para preman berotot yang bermain catur di depan pintu masuk, salah satunya adalah si ketua gengs Anton. Mereka tertawa terbahak-bahak sambil sesekali meneguk minuman dalam botol.
Dari kejauhan Romi DKK siap beraksi.
“Karen Gillan siap beraksi … santai saja,” Ina mulai memasuki kawasan.
Melihat kedatangan wanita secantik Ina para preman itu terpesona.
“Apa yang kau lakukan disini Nona?” Tanya salah satu preman.
“Menemani abang main catur. Boleh?” Iuh …. Menjijikan sekali jika melihat ekspresi Ina, sungguh totalitas.
Para preman bodoh ini larut dalam gelak tawa bersama Ina, tidak menyadari bahwa Ina telah memasukan racun yang akan membuat mereka mulas dalam beberapa detik lagi.
Ups … semua berlarian saling mendahului untuk sampai ke toilet, meninggalkan Ina yang tertawa puas.
Guys … come on!
Bagai di komando Romi, Budi, Indah dan Gray segera menghampiri dan masuk ke markas.
Para preman yang menyadari kehadiran mereka hendak melawan namun apalah daya saat ini mereka tidak bisa berbuat apa-apa, jangankan menonjok dengan otot besarnya melangkah saja sudah sangat payah.
“Green …” Gray mencoba memanggil adiknya.
“Green ... Green …” yang lain mengikuti sambil membuka setiap pintu yang tergembok.
Salah satu preman cukup kuat ternyata, ia mengesampingkan rasa mulesnya dengan terus berusaha melawan. Indah dan Romi maju paling depan untuk menghadang preman ini, sedangkan Budi, Ina dan Gray terus mencari Green.
Disaat sudah hampir putus asa karena tidak jua menemukan Green, suara lirih terdengar “Tolong ….”
Gray, Budi dan Ina segera menghampiri sumber suara. Mereka mendobrak pintu yang tergembok baja. Setelah pintu terbuka belasan anak berhamburan keluar lantas memeluk Ina, Budi dan Gray.
“Green kamu tidak apa-apa?” Tanya Gray sambil memeluk adiknya.
“Tidak kak. Untung kakak tepat waktu, malam ini kami akan di jual ke luar negeri.”
Para preman berhasil di lumpuhkan, Romi DKK, Gray dan belasan pengamen cilik berhasil melarikan diri.
∞∞∞∞∞
Semenjak kejadian itu Romi DKK akhirnya mendirikan sebuah sekolah terbuka bagi anak-anak jalanan dan sedikit mengubah mind set mereka untuk tidak lagi mengamen agar tidak bergantung nasib dari belas kasihan tangan orang lain. Romi DKK mendampingi mereka untuk berwirausaha kreatif.
Ingatkah dengan pengamen cilik yang Romi liat beberapa hari lalu saat lampu merah? Dialah Green.
Reading Time:

Monday, August 19, 2019

Case 6 : White Collar Crime
5:27:00 PM0 Comments


Indah dan Ina nampak serius membuka dan membaca beberapa website yang disarankan Romi dua hari lalu.
Bertempat di kamar tidur Indah. Mereka menyusun rencana agar bisa menyelundup ke acara pertemuan antar pengusaha di apartment mewah siang besok.
Pertemuan itu akan dihadiri para Chief Executive Officer dari berbagai peruhaan terbesar dalam Negeri.
“Yuhu … pulang-pulang bawa gebetan Bos nih,” Ina girang sendiri bermain dengan imajinasinya. Ia akan bertemu dengan CEO muda, mereka saling jatuh cinta, menikah  dan bahagia. Halah  … Ina terlalu sering membaca novel romance.
Please Ina seriously!”
Hi Budy come on, anggap kita akan bersenang-senang bukan hanya sekadar menjalankan misi!”
Indah hanya menyunggingkan bibirnya memaksakan diri untuk tersenyum.
∞∞∞∞∞
Sekitar pukul 05.00 AM mereka menuju apartment yang akan mengadakan pertemuan tersebut.
Bukan sembarang orang yang bisa masuk ternyata, mereka tidak membaca bahwa hanya orang berkartu nama dengan tulisan CEO lah yang bisa masuk ke acara tersebut.
Indah menelepon Romi.
“Rom gawat aku dan Ina tidak bisa masuk.”
“Tenang saja,  kembalilah ke basement! Begini caranya ….”
∞∞∞∞∞
Yang ditunggu telah datang.
“Wow keren … tampan. Biar aku saja yang maju.”  
Ina keluar dari mobil dan mulai berakting.
Modus mencuri perhatian Ina memang selalu berhasil, seorang pria muda berjas rapi menghampiri.
“Ada yang bisa dibantu nona? Sepertinya anda kebingungan.”
“Tentu tuan! Saya meninggalkan dompet di apartment dan kuncinya terbawa oleh sahabat saya. Lapar sekali … saya hendak membeli makan tapi …”
“Mau lunch bersama saya?”
“Sungguh?” Ina bertanya dengan mata berniar.
“Tentu.”
“Dimana?”
“Mahoni No. 1334.”
“Setahu saya disana sedang ada pertemuan para pengusaha.”
“Iya .. saya hendak kesana.”
“Anda seorang CEO?”
“Yups … ”
“Tidak, mana mungkin saya ikut.”
“Semua orang datang dengan membawa pasangan. Hanya saya yang tidak. Jadi jika kamu mau bisa menemani saya kesana.”
“Baiklah,” tentu saja Ina tidak akan menolak dalam hatinya sudah girang.
Indah yang ada didalam mobil memperhatikan dan cekikikan “ wah … keren kau In bisa menjadi pesaing berat Karen Gillan pemain Jumanji.” Dalam benaknya Indah juga bertanya apa dia bisa melakukan hal serupa dengan Ina. Ayolah … Indah tidak pandai berakting apalagi berlagak sok feminim di depan pria. Yang ada Indah akan mengajak bertarung.
Tidak ada jalan keluar. Ina tidak boleh menunggu lebih lama di dalam sana sendirian, bahaya.
Pikiran Indah sudah kalut. Ia melewatkan para pria berdasi yang memarkirkan mobilnya.
Aha ….
∞∞∞∞∞
Sedari tadi Ina celingukan mencari kawannya yang belum juga muncul.
“Hah … itu Indah,” Ina kaget melihat Indah yang bukannya terlihat menawan justru sebaliknya.
Indah memberi kode agar Ina menghampiri.
Mereka ada di kamar mandi sekarang.
“Apa yang kau lakukan dengan kostum  ini Indah?”
“Aku menyamar menjadi sopir yang akan mengantarkan map ini pada Tuannya. Hampir saja petugas di depan tidak bisa kelabui.
Pasang pengaman ini!” Lanjutnya.
Indah dan Ina memasangkan full-face mask sebagai alat pelindung dari gas yang akan segera memenuhi ruangan ini.
Begitu penutup gas yang ada ditangan ini dilepas,  sempurna sudah … semua mata terlelap kecuali Ina dan Indah.
“Bolehkah aku menculik satu Ndah?”
“Ina ….. “
“Indah ….”
∞∞∞∞∞
“Kenapa kita menidurkan semua orang Indah, kita hanya mencari satu orang untuk mendapatkan sidik jarinya?” Ina geleng-geleng kepala setelah menyadari ini keliru.
“Terlalu rumit mencari satu orang diantara orang-orang hidup In,” Indah memberikan alasan yang lumayan masuk akal.
Oh Lord ….”
Indah dan Ina gerak cepat membuka setiap dompet para CEO muda tersebut dan melihat KTP nya.
“Aku tahu siapa dia … dia bos yang pelit terhadap anak buahnya. Tidak ada salahnya aku mengambil beberapa lembar uang ini dari dompetnya” Yups … Indah menyelam sambil minum air.
“Aje gile ini mantan Bos aku di perusahaan dulu. Dia masih saja menyimpan poto selingkuhannya meski memiliki istri yang cantik dan baik. Eh … memang para lelaki ini sudah di kasih kaya lupa sama yang dirumah. Enggak tahu apa siapa yang menemani mereka hingga sukses begini kalau bukan bininya.” Ina terpancing emosi.
“Sudah ketemu Ndah?”
“Belum Na …”  Indah dan Ina sahut-sahutan seakan tidak ada yang mendengar.
Namun tepat dibelakang mereka sudah berdiri seorang pria muda dengan pakaian santai berdehem. Indah dan Ina kaget bukan kepalang. Mereka saling menoreh lalu berbarengan melihat kebelakang.
“Kalian mencariku?”
“Apa yang kau lakukan disini?”
“Hei Nona-nona tentu saja aku sedang menghadiri acara ini. Kalian sungguh hebat meninabobokan peserta yang lain. Terima kasih karena sudah mempermudah pekerjaanku untuk menyingkirkan mereka para kompetitor.”
“Hei kau tidak punya hati … kau telah menuduh supplier kecil melakukan kesalahan besar dalam memproduksi kain. Padahal jelas-jelas perusahaan kalianlah yang telah menambahkan zat berbahaya pada kain tersebut sehingga menimbulkan kegatalan pada setiap pemakainya.”
“Perusahaan kami telah dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan.” Pria di depan Indah dan Ina merentangkan tangan dengan sombongnya.
“Kau menyuapnya.”
“Apa aku salah?”
“Tentu.”
“Uang bisa  membeli semuanya nona-nona termasuk membeli kalian … hukum di Negera kita gampang sekali dibeli hanya dengan selembar kertas ini,” Ia melemparkan selembar cek pada Indah dan Ina.
“Kalian pikir mengapa para koruptor masih masih banyak berkeliaran dan korupsi terjadi dimana-mana? Karena hukum di Negara kita lembek, membuat para bedebah seperti kami tidak keberatan untuk menghadap pengadilan. Wong … pengadilan ada di bawah kuasa kami. Jika ada hakim sok suci maka bersiaplah menghadapi nasib malang kehilangan perkerjaan.
Bukankah kalian sudah tahu sendiri,  ini bukan hal baru. Right?”
Sekarang pulanglah! Biar aku yang menyelesaikan semua ini. Belajarlah sedikit lebih cerdik saat ingin membongkar kejahatan di dunia kami para gadis kampung!”
Indah berlari ke belakang … Ina membuka genggamannya mengeluarkan serbuk kimia yang bisa membangunkan para audiens.
Tepat ketika semua membuka mata layar lebar di depan menyala … menyiarkan rekaman suara dan pengakuan dari pria sombong tadi.
Tersangka hendak melarikan diri ketika menyadari semua mata tertuju padanya, Namun tertahan setelah seorang audien menghadang dan menelepon polisi.
Indah telah mengupload video tersebut ke youtube, secara Indah adaah youtuber yang akan dengan cepat memviralkan video ini. Bukan hanya lewat youtube Ina juga memposting video ini dalam instagram.
Terlalu lama jika harus menunggu reporter menyiarkan berita ini di televisi. Zaman telah berubah, berita lebih cepat sampai memalui media-media kekinian seperti youtube maupun Instagram.
∞∞∞∞∞
Sepulang dari sini akun youtube Indah kebanjiran subscriber. Begitu pula dengan instagram milik Ina yang langsung berceklis biru ditambah bonus DM dari CEO muda yang kemarin membuatnya berhasil masuk ke Mahoni No. 1334.
“Hai … you are amazing
Mimpi Ina menjadi nyata untuk mendapatkan CEO muda.
Reading Time: